BKSDA–YIARI Selamatkan Bayi Orangutan di Ketapang

Penyelamatan Bayi Orangutan di Area Perkebunan

Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) kembali melakukan upaya penyelamatan terhadap satwa dilindungi. Kali ini, seekor bayi orangutan betina ditemukan sendirian di area perkebunan kelapa sawit milik warga di Desa Sungai Besar, Kecamatan Matan Hilir Selatan, Kabupaten Ketapang.

Bayi orangutan tersebut ditemukan tanpa keberadaan induknya selama beberapa hari. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran serius karena orangutan muda sangat bergantung pada induk untuk bertahan hidup di alam liar.

Laporan masyarakat menjadi titik awal penyelamatan, sekaligus menunjukkan meningkatnya kepedulian warga terhadap keberadaan satwa liar di sekitar permukiman dan kebun.


Laporan Warga Jadi Penentu Keselamatan Satwa

Dokter hewan YIARI, drh. Komara, menjelaskan bahwa laporan warga menyebutkan bayi orangutan terlihat berkeliaran di kebun sawit tanpa pendamping induk.

Tim gabungan BKSDA dan YIARI kemudian melakukan verifikasi lapangan untuk memastikan kondisi satwa. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa bayi orangutan tersebut benar-benar berada sendirian dan berpotensi mengalami konflik dengan manusia.

Keberadaan orangutan di kawasan perkebunan sangat berisiko, baik bagi keselamatan satwa maupun masyarakat. Oleh karena itu, tindakan cepat menjadi hal yang mutlak diperlukan.


Upaya Pencarian Induk Dilakukan

Sebelum dilakukan evakuasi, tim lapangan terlebih dahulu berupaya mencari keberadaan induk di sekitar lokasi penemuan. Proses pencarian dilakukan dengan menyusuri area kebun dan vegetasi sekitar.

Namun hingga waktu yang ditentukan, induk orangutan tidak ditemukan. Situasi ini memperkuat dugaan bahwa bayi tersebut telah terpisah cukup lama dari induknya.

Untuk menjaga keselamatan satwa, tim memutuskan berjaga dan bermalam di lokasi sambil menunggu kedatangan tim penyelamat lengkap dengan peralatan evakuasi.


Evakuasi Tanpa Anestesi Demi Keamanan

Setelah dilakukan observasi menyeluruh, tim memutuskan proses evakuasi dilakukan tanpa menggunakan senjata bius atau anestesi. Keputusan ini diambil berdasarkan pertimbangan usia orangutan yang masih sangat muda.

Menurut drh. Komara, penggunaan obat bius pada bayi orangutan justru dapat meningkatkan risiko gangguan fisiologis dan memperparah kondisi stres.

Penanganan manual dipilih sebagai metode paling aman, dengan tetap memperhatikan tingkat kenyamanan satwa agar tidak mengalami trauma berlebihan selama proses penyelamatan.


Proses Penyelamatan Berjalan Lancar

Proses penangkapan bayi orangutan berlangsung relatif lancar. Tim menggunakan pendekatan perlahan dan minim suara agar satwa tidak panik.

Setelah berhasil diamankan, bayi orangutan kemudian dimasukkan ke kandang transport khusus dan segera dibawa ke Pusat Penyelamatan dan Rehabilitasi Orangutan YIARI.

Di pusat rehabilitasi, satwa langsung menjalani pemeriksaan kesehatan awal untuk memastikan tidak terdapat luka serius atau gangguan medis yang membahayakan.


Diberi Nama Jani dan Jalani Pemeriksaan Medis

Bayi orangutan betina tersebut kemudian diberi nama Jani oleh tim penyelamat. Hasil pemeriksaan awal memperkirakan usia Jani sekitar lima tahun.

Pada usia tersebut, anak orangutan seharusnya masih berada dalam pengasuhan penuh induknya. Di alam liar, ketergantungan anak orangutan terhadap induk berlangsung hingga usia enam sampai delapan tahun.

Induk berperan penting dalam memberikan nutrisi, perlindungan, serta mengajarkan keterampilan bertahan hidup seperti mencari makan dan mengenali bahaya.


Risiko Tinggi Terpisah dari Induk

Terpisah dari induk pada usia muda merupakan kondisi yang sangat berbahaya bagi orangutan. Tanpa induk, anak orangutan tidak memiliki kemampuan untuk bertahan hidup secara mandiri.

Selain risiko kelaparan, tekanan psikologis juga menjadi ancaman serius. Anak orangutan yang kehilangan induk rentan mengalami stres, trauma, dan gangguan perilaku.

Oleh sebab itu, penanganan pasca-evakuasi dilakukan secara hati-hati dan berorientasi pada pemulihan jangka panjang.


Karantina untuk Pemulihan Fisik dan Mental

Saat ini, Jani ditempatkan di ruang karantina khusus di pusat rehabilitasi YIARI. Masa karantina bertujuan untuk memulihkan kondisi fisik dan mental satwa setelah mengalami tekanan di alam.

Selama periode ini, Jani akan menjalani pemeriksaan medis lanjutan, pemantauan perilaku, serta adaptasi lingkungan secara bertahap.

Pendekatan rehabilitasi dilakukan dengan prinsip kesejahteraan satwa, termasuk meminimalkan interaksi manusia agar naluri alaminya tetap terjaga.


Tekanan Habitat Jadi Penyebab Utama

Ketua YIARI, Silverius Oscar Unggul, menilai kejadian ini mencerminkan semakin besarnya tekanan terhadap habitat orangutan di Kalimantan Barat.

Fragmentasi hutan akibat ekspansi lahan, termasuk perkebunan, membuat ruang jelajah orangutan semakin sempit. Akibatnya, konflik antara manusia dan satwa liar semakin sering terjadi.

Ia menegaskan bahwa penyelamatan satwa hanyalah langkah darurat. Pencegahan jangka panjang melalui perlindungan habitat dan edukasi masyarakat menjadi solusi utama.


Peluang Reunifikasi Masih Dipantau

Tim gabungan masih terus memantau kawasan sekitar lokasi penemuan untuk mencari kemungkinan keberadaan induk Jani.

Apabila induk ditemukan dan dinilai memungkinkan secara perilaku serta kondisi lingkungan, proses reunifikasi akan diupayakan.

Namun jika induk tidak ditemukan, Jani akan menjalani proses rehabilitasi hingga dinyatakan siap untuk dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya.


Apresiasi BKSDA terhadap Kolaborasi

Kepala BKSDA Kalimantan Barat, Murlan Dameria Pane, menyampaikan apresiasi atas kerja sama antara masyarakat, pemerintah, dan lembaga konservasi dalam penyelamatan tersebut.

Menurutnya, kolaborasi lintas pihak menjadi kunci keberhasilan perlindungan satwa dilindungi.

Ia menekankan bahwa kasus ini menjadi pengingat bahwa tekanan terhadap habitat orangutan masih tinggi dan membutuhkan perhatian bersama.


Orangutan Kalimantan dalam Ancaman

Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) merupakan satwa dilindungi yang populasinya terus mengalami penurunan. Hilangnya habitat dan konflik dengan aktivitas manusia menjadi ancaman utama keberlangsungan spesies ini.

Perlindungan orangutan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan lembaga konservasi, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat.

Kesadaran publik dalam melaporkan keberadaan satwa liar di area berisiko menjadi langkah penting dalam upaya konservasi.


Penutup

Penyelamatan bayi orangutan Jani di Ketapang menjadi potret nyata tantangan konservasi satwa liar di Kalimantan Barat. Di balik keberhasilan evakuasi, tersimpan persoalan besar terkait fragmentasi habitat dan konflik manusia-satwa.

Melalui sinergi antara BKSDA, YIARI, dan masyarakat, satu nyawa satwa berhasil diselamatkan. Namun upaya perlindungan harus terus diperkuat agar kejadian serupa dapat dicegah.

Perlindungan orangutan bukan sekadar menjaga satu individu, tetapi menjaga keberlangsungan ekosistem dan warisan alam bagi generasi mendatang.

Baca Juga : Kalbar Perkuat Tata Kelola BUMD untuk Tingkatkan Laba

Cek Juga Artikel Dari Platform : carimobilindonesia

You may also like...