Festival Meriam Karbit di Pontianak: Sejarah, Tradisi, dan Maknanya
Awal Tradisi Meriam Karbit
kalbarnews.web.id – Sebelum hadirnya festival ini, masyarakat Pontianak sudah lama mengenal suara dentuman meriam sebagai penanda pentingnya perayaan. Konon, tradisi ini dipicu oleh Sultan Syarif Abdurrahman Al-Kadrie. Ketika membuka lahan untuk membangun Kota Pontianak, beliau diserang oleh roh-roh halus. Meriam pun dipercaya mampu mengusir gangguan mistis tersebut. Sejak saat itu, dentuman meriam menjadi simbol keselamatan dan perlindungan bagi masyarakat lokal.
Festival Meriam Karbit: Ritual Ramadan yang Meluas
Festival Meriam Karbit merupakan tradisi tahunan yang digelar menjelang dan setelah Hari Raya Idulfitri. Sebagai ritual sosial, festival ini dipusatkan di tepian Sungai Kapuas. Pada malam takbiran, masyarakat Pontianak meramaikan pinggiran sungai dengan deretan meriam karbit siap meledak. Meriam ini terbuat dari material sederhana—bambu, kayu kelapa, hingga gundukan kayu utama seperti meranti. Setiap meriam dipasang secara manual, dilubangi dan dilapisi pelumas agar tahan air dan bisa menghasilkan suara keras khas “dadum” saat dinyalakan.
Rekor dan Pengakuan Budaya
Pada tahun 2007 dan 2009, parade meriam karbit Pontianak mencatat rekor di Museum Rekor Indonesia (MURI) karena jumlah meriam terbanyak. Pengakuan ini menegaskan bahwa tradisi ini adalah yang pertama dan paling meriah di dunia.
Lebih jauh, pada tahun 2016, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan meriam karbit sebagai Warisan Budaya Takbenda. Hal ini menandai pengakuan formal terhadap nilai budaya dan simbolik tradisi ini.
Pelaksanaan festival diawali dengan penyulutan oleh tokoh masyarakat, seperti wali kota atau pejabat setempat. Biasanya melibatkan puluhan kelompok yang mewakili berbagai kelurahan di Pontianak. Masing-masing kelompok mengerahkan kreativitas dalam menghias meriam dengan warna-warna cerah atau kain bermotif, sebagai wujud identitas komunitasnya.
Proses perakitan sendiri tergolong kompleks. Kayu yang digunakan direndam dalam air Kapuas semalaman untuk mencegah rayap dan memperkuat struktur. Setelah kering, meriam siap diisi karbit dan dinyalakan oleh obor yang dianjurkan dilakukan dengan pengawasan ketat.
Tantangan dan Upaya Pelestarian
Di era modern, festival ini menghadapi berbagai tantangan. Penurunan jumlah kelompok peserta terjadi karena kesulitan dana dan bahan baku. Tahun 2025, jumlah kelompok turun dari 41 menjadi 30 kelompok dengan total meriam lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya.
Untuk menjawab tantangan ini, Pemkot dan Forum Meriam Karbit melibatkan strategi dukungan seperti program “Bapak Asuh”—mencari patron untuk membantu dana maupun logistik perakitan meriam. Dengan pendekatan bersama, festival diharapkan tetap lestari.
Makna Sosial dan Budaya
Tak hanya soal dentuman meriah, festival ini merepresentasikan identitas kolektif masyarakat Pontianak. Suara meriam bertindak sebagai simbol penyatuan, menyampaikan pesan berbagi, toleransi, dan kekompakan di tengah semarak Ramadan. Festival ini juga berfungsi sebagai alat edukasi multigenerasi untuk meneruskan kebudayaan lokal.

Kesimpulan
Festival Meriam Karbit di Pontianak adalah cerminan budaya yang melekat kuat dalam tradisi menjelang Idulfitri. Dengan sejarah leluhur, proses pembuatan yang rumit, dan pengakuan budaya berupa MURI dan Warisan Budaya Takbenda, festival ini terus menyuarakan semangat lokal. Masyarakat dan pemerintah bersama berupaya menjaga agar dentuman meriah ini tetap bergaung di tepian Sungai Kapuas untuk generasi mendatang.
Cek juga artikel menarik di mabar.online
