Kenapa Singkawang Disebut Kota 1000 Tatung: Sejarah dan Budaya Penuh Magis
Pendahuluan
Untuk memahami keberagaman budaya Kalbar secara utuh, kunjungi artikel pilar [Sejarah dan Budaya Kalimantan Barat].
Tradisi ini juga memiliki keterkaitan dengan kehidupan masyarakat yang tinggal di sekitar [Sungai Kapuas] dan sejarah panjang kota [Pontianak].
Kota Singkawang di Kalimantan Barat dikenal luas sebagai Kota 1000 Tatung. Julukan ini tidak muncul begitu saja. Ia berasal dari tradisi budaya dan ritual yang sudah berlangsung ratusan tahun, khususnya saat perayaan Cap Go Meh, yang menjadi ikon kota ini. Keunikan budaya tatung telah menjadikan Singkawang terkenal, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di mancanegara.
Asal Usul Julukan Kota 1000 Tatung
Julukan Kota 1000 Tatung merujuk pada ribuan tatung yang turun ke jalan setiap perayaan Cap Go Meh. Kata “tatung” sendiri berasal dari bahasa Hakka yang berarti orang yang dirasuki roh leluhur atau dewa untuk membersihkan kota dari roh jahat.
Tradisi ini dibawa oleh imigran Tionghoa Hakka yang datang ke Kalimantan Barat pada abad ke-18. Mereka membawa keyakinan dan ritual yang berakar dari budaya Tiongkok kuno, lalu memadukannya dengan budaya lokal Dayak dan Melayu. Dari sinilah lahir harmoni budaya unik yang masih bertahan hingga saat ini.
Makna dan Peran Tatung
Para tatung dipercaya sebagai perantara antara dunia manusia dan dunia roh. Mereka menjalani ritual khusus sebelum Cap Go Meh, termasuk berpantang makanan tertentu dan melakukan meditasi. Saat perayaan, para tatung berjalan di jalanan kota sambil mempertunjukkan aksi-aksi menegangkan seperti menusukkan benda tajam ke tubuh tanpa terluka.
Makna dari ritual ini adalah pembersihan kota dari roh jahat sekaligus pemberkatan bagi masyarakat agar diberi keselamatan dan keberuntungan sepanjang tahun.
Cap Go Meh: Puncak Festival Tatung
Perayaan Cap Go Meh di Singkawang jatuh pada hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek. Ribuan wisatawan lokal dan mancanegara berkunjung setiap tahun untuk menyaksikan pawai spektakuler ini. Jalan-jalan utama kota dipenuhi oleh arak-arakan tatung yang mengenakan kostum warna-warni dengan atribut budaya yang mencolok.
Acara ini bukan hanya ritual keagamaan, tetapi juga pesta budaya yang menggabungkan seni, musik, dan kuliner khas Singkawang.
Pengaruh Budaya Tionghoa dan Dayak
Tradisi tatung di Singkawang adalah hasil perpaduan budaya Tionghoa Hakka dengan adat Dayak. Kombinasi ini menciptakan tradisi yang unik dan tidak ditemukan di tempat lain. Keunikan ini pula yang membuat Singkawang dijuluki sebagai kota dengan harmoni budaya terbaik di Kalimantan Barat.
Pariwisata dan Ekonomi Lokal
Fenomena tatung telah menjadikan Singkawang sebagai destinasi wisata budaya. Setiap tahun, ribuan wisatawan datang, memberikan dampak positif pada sektor ekonomi, terutama bagi hotel, restoran, dan UMKM lokal.
Pemerintah daerah juga memanfaatkan momentum ini dengan mengembangkan festival tatung sebagai agenda tahunan yang dipromosikan hingga ke tingkat internasional.
Modernisasi dan Pelestarian Budaya
Meski zaman terus berkembang, masyarakat Singkawang tetap menjaga keaslian tradisi tatung. Generasi muda dilibatkan dalam berbagai kegiatan budaya agar tradisi ini tetap lestari. Festival tatung kini juga dipadukan dengan konsep modern seperti parade musik dan atraksi seni, sehingga lebih menarik bagi generasi milenial dan wisatawan asing.
Kesimpulan
Singkawang disebut Kota 1000 Tatung karena setiap perayaan Cap Go Meh, ribuan tatung turun ke jalan untuk melakukan ritual pembersihan kota dan pemberkatan. Tradisi ini merupakan perpaduan unik antara budaya Tionghoa, Dayak, dan Melayu yang hanya bisa ditemukan di Singkawang.
Jika Anda ingin merasakan pengalaman budaya yang penuh energi, spiritualitas, dan keunikan, berkunjunglah ke Singkawang saat perayaan Cap Go Meh. Di sana, Anda akan memahami mengapa kota ini begitu istimewa dan layak disebut Kota 1000 Tatung.
Artikel terbaru paling seru cuman ada di ngobrol.online

