Tutur Rasa Jatim Padukan Kopi dan Budaya Penggerak Ekonomi
Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur kembali menghadirkan pendekatan kreatif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Melalui gelaran Tutur Rasa Jawa Timur bertajuk Dari Kebun ke Meja Seduh, kopi, kuliner, dan budaya dipadukan dalam satu ruang yang tidak hanya menghadirkan rasa, tetapi juga cerita dan peluang ekonomi.
Festival ini digelar di Hall Balai Pemuda Surabaya dan dirancang sebagai ruang perjumpaan antara pelaku UMKM, pegiat kopi, industri kreatif, serta masyarakat luas. Konsep yang diusung menempatkan produk lokal bukan sekadar sebagai barang konsumsi, melainkan sebagai medium ekspresi budaya sekaligus penggerak ekonomi kreatif Jawa Timur.
Ruang Bertemunya Rasa, Cerita, dan Peluang
Tutur Rasa Jawa Timur menjadi etalase besar bagi produk UMKM unggulan daerah. Di dalamnya, pengunjung dapat menjumpai beragam aktivitas, mulai dari bazar kopi dan durian, sajian kuliner khas daerah, workshop fotografi dan media sosial, pelatihan seputar kopi, hingga sosialisasi halal dan pendaftaran merek dagang.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengembangan UMKM tidak cukup hanya dengan menyediakan ruang jual-beli, tetapi juga perlu dibarengi dengan peningkatan kapasitas, literasi pemasaran, serta penguatan identitas produk. Dengan demikian, UMKM tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang secara berkelanjutan.
Kopi sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif
Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Timur, Endy Alim Abdi Nusa, menegaskan bahwa kopi menjadi salah satu bintang utama dalam gelaran Tutur Rasa. Menurutnya, kopi saat ini telah melampaui fungsi dasarnya sebagai minuman, dan berkembang menjadi bagian penting dari ekonomi kreatif.
Ia menilai, kopi memiliki kekuatan unik karena mampu menghubungkan sektor hulu dan hilir, mulai dari petani, pengolah, roaster, barista, hingga pelaku kreatif di bidang desain, fotografi, dan pemasaran. Seluruh mata rantai tersebut memiliki potensi ekonomi jika dikelola secara tepat.
Dalam festival ini, para pegiat kopi dikumpulkan dalam satu ruang untuk menunjukkan bahwa kopi lokal Jawa Timur memiliki kualitas dan karakter yang tidak kalah dengan daerah lain. Kehadiran berbagai varian kopi dari sejumlah wilayah menjadi bukti kekayaan rasa dan potensi besar yang dimiliki provinsi ini.
Makna Filosofis “Tutur Rasa”
Nama Tutur Rasa dipilih bukan tanpa makna. Jika kata “tutur” biasanya merujuk pada ucapan atau cerita lisan, dalam festival ini justru rasa yang berbicara. Setiap pelaku UMKM kopi membawa kisahnya masing-masing melalui aroma dan cita rasa kopi yang diseduh.
Mulai dari proses penanaman, pemetikan, pascapanen, sangrai, hingga penyajian, seluruh tahapan tersebut menjadi bagian dari cerita yang memberi nilai tambah pada produk. Menurut Endy, nilai kopi tidak hanya terletak pada biji yang dijual, tetapi pada narasi yang menyertainya.
Pendekatan storytelling inilah yang dinilai mampu meningkatkan daya saing produk UMKM. Ketika konsumen memahami asal-usul dan proses di balik sebuah produk, apresiasi terhadap nilai dan harga pun menjadi lebih tinggi.
Peluang untuk Generasi Muda
Festival Tutur Rasa Jawa Timur juga membuka ruang luas bagi generasi muda. Kopi diposisikan sebagai medium ekspresi kreatif, baik bagi Gen Z maupun pelaku usaha senior yang ingin terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Melalui kegiatan workshop dan pelatihan, generasi muda didorong untuk terlibat aktif, tidak hanya sebagai penikmat kopi, tetapi juga sebagai pelaku usaha dan kreator konten. Pendekatan ini diharapkan mampu melahirkan wirausaha baru yang berbasis kreativitas dan budaya lokal.
Endy menilai bahwa keterlibatan generasi muda sangat penting untuk memastikan keberlanjutan industri kopi dan UMKM ke depan. Dengan ide-ide segar dan pemanfaatan teknologi, kopi lokal dapat dikemas lebih menarik dan menjangkau pasar yang lebih luas.
Kekayaan Kopi Jawa Timur dalam Satu Ruang
Jawa Timur dikenal memiliki sejumlah wilayah penghasil kopi unggulan, seperti kawasan Ijen, Jombang, hingga daerah lain yang selama ini menjadi bagian dari lanskap kopi Nusantara. Melalui Tutur Rasa, seluruh potensi tersebut dihadirkan dalam satu ruang, sehingga memudahkan pengunjung untuk mengenal keragaman kopi Jawa Timur.
Menariknya, festival ini juga mengusung semangat berbagi. Para pelaku kopi turut mendonasikan biji kopi mereka, sehingga pengunjung dapat menikmati seduhan kopi sambil berdonasi. Konsep ini menambah dimensi sosial dalam festival, memperkuat nilai kebersamaan dan kepedulian.
Kuliner Tradisional sebagai Identitas Budaya
Tak hanya kopi, kuliner khas daerah juga mendapat panggung utama dalam gelaran Tutur Rasa Jawa Timur. Beragam hidangan tradisional disajikan, mulai dari lontong kupang khas Surabaya, soto dan tahu campur Lamongan, hingga nasi jhejhen Madura dengan taburan bubuk kelapa.
Setiap sajian membawa identitas budaya dan cerita daerah asalnya. Kehadiran kuliner tradisional ini menegaskan bahwa ekonomi kreatif tidak dapat dipisahkan dari akar budaya lokal. Justru, kekuatan budaya itulah yang menjadi pembeda dan daya tarik utama.
Penguatan UMKM Menuju Daya Saing Lebih Tinggi
Melalui Tutur Rasa Jawa Timur, Diskop UKM Jatim ingin menegaskan bahwa penguatan UMKM harus dilakukan secara holistik. Tidak hanya fokus pada produksi, tetapi juga pada aspek branding, legalitas, pemasaran, dan pengemasan cerita produk.
Dengan memanfaatkan momentum liburan dan lokasi strategis di pusat kota, festival ini diharapkan mampu menarik pengunjung dalam jumlah besar. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi contoh bagaimana kopi, kuliner, dan budaya dapat dipadukan menjadi penggerak ekonomi yang bernilai tinggi.
Tutur Rasa Jawa Timur akhirnya bukan sekadar festival, melainkan representasi arah baru pengembangan UMKM dan ekonomi kreatif, di mana rasa, cerita, dan budaya berjalan beriringan untuk mengangkat nilai produk lokal dan memperkuat perekonomian daerah.
Baca Juga : Expat Roasters Bandung Perkuat Standar Kopi Lokal
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : revisednews

