KPID Kalbar Sosialisasi Peliputan Festival Cap Go Meh

kalbarnews.web.id Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Kalimantan Barat menggelar kegiatan sosialisasi terkait peliputan Festival Budaya Cap Go Meh. Kegiatan ini dilakukan secara daring dan diikuti oleh berbagai lembaga penyiaran publik maupun swasta di seluruh Kalimantan Barat.

Festival Cap Go Meh telah lama menjadi salah satu agenda budaya dan pariwisata terbesar di Kalbar. Perayaan ini tidak hanya penting bagi masyarakat Tionghoa, tetapi juga telah berkembang menjadi atraksi budaya yang menarik perhatian wisatawan nasional hingga internasional.

Karena besarnya perhatian publik, festival ini selalu menjadi momen penting bagi lembaga penyiaran. Liputan media menjadi salah satu faktor utama yang menentukan bagaimana festival ini dipahami masyarakat luas.

Namun, di sisi lain, terdapat sejumlah atraksi budaya yang memerlukan perhatian khusus dalam peliputan. Oleh sebab itu, KPID Kalbar merasa perlu memberikan panduan agar penyiaran tetap menonjolkan nilai kearifan lokal dan sesuai dengan standar yang berlaku.

Cap Go Meh sebagai Ikon Pariwisata Kalimantan Barat

Cap Go Meh merupakan perayaan hari kelima belas dalam kalender Tionghoa. Di Kalimantan Barat, perayaan ini memiliki kekhasan yang sangat kuat. Festival Cap Go Meh di Singkawang, misalnya, dikenal luas sebagai salah satu yang terbesar di Indonesia.

Perayaan ini menghadirkan berbagai unsur budaya, mulai dari arak-arakan, pertunjukan seni, hingga ritual tradisional yang telah diwariskan turun-temurun.

Festival ini tidak hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga simbol keberagaman budaya Indonesia. Masyarakat dari berbagai latar belakang turut hadir dan menikmati suasana festival.

Karena itu, Cap Go Meh menjadi agenda unggulan pariwisata Kalbar yang mampu mengangkat citra daerah ke tingkat nasional bahkan internasional.

Pentingnya Peran Media dalam Peliputan Budaya

Lembaga penyiaran memiliki peran besar dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Liputan yang baik dapat memperkenalkan kekayaan budaya Kalbar kepada publik yang lebih luas.

Namun, peliputan budaya juga memiliki tantangan tersendiri. Media tidak hanya bertugas menampilkan sisi menarik dari sebuah festival, tetapi juga harus menjaga agar pesan utama budaya tetap tersampaikan dengan benar.

Dalam Festival Cap Go Meh, misalnya, ada atraksi seperti tatung yang sering menjadi pusat perhatian. Atraksi ini unik dan memiliki nilai budaya tinggi, tetapi juga perlu disajikan dengan konteks yang tepat.

KPID Kalbar menekankan bahwa peliputan harus menonjolkan nilai kearifan lokal, bukan sekadar sensasi visual.

Atraksi Tatung dan Perlunya Kehati-hatian

Salah satu daya tarik utama Festival Cap Go Meh di Kalbar adalah atraksi tatung. Tatung merupakan tradisi yang memiliki akar budaya dan spiritual yang kuat.

Atraksi ini sering menarik perhatian besar karena memiliki unsur yang tidak biasa bagi sebagian penonton. Oleh sebab itu, peliputannya memerlukan kehati-hatian agar tidak menimbulkan salah tafsir.

KPID Kalbar mengingatkan bahwa lembaga penyiaran harus menempatkan tradisi ini sebagai bagian dari kearifan lokal, bukan sekadar tontonan ekstrem.

Dengan pendekatan yang tepat, media dapat membantu masyarakat memahami tradisi tersebut sebagai warisan budaya yang kaya makna.

Sosialisasi Sesuai Pedoman P3SPS

Dalam sosialisasi ini, KPID Kalbar menghadirkan jurnalis senior Syahnanto Noerdin sebagai narasumber. Ia menekankan pentingnya peliputan yang selaras dengan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran atau P3SPS.

P3SPS menjadi acuan utama bagi lembaga penyiaran dalam menyajikan konten kepada publik. Pedoman ini bertujuan menjaga kualitas siaran, melindungi masyarakat, serta memastikan informasi disampaikan secara bertanggung jawab.

Syahnanto menjelaskan bahwa peliputan festival budaya harus memperhatikan unsur edukasi dan penghormatan terhadap tradisi.

Media diharapkan tidak hanya mengejar rating atau viralitas, tetapi juga menjaga nilai budaya dan etika penyiaran.

Festival Budaya dan Penguatan Identitas Daerah

Festival Cap Go Meh memiliki nilai strategis bagi Kalimantan Barat. Selain menjadi daya tarik wisata, festival ini juga memperkuat identitas budaya daerah.

Keberagaman budaya di Kalbar menjadi kekuatan yang harus terus dijaga. Festival ini menunjukkan bagaimana tradisi dapat hidup berdampingan dengan modernitas dan pariwisata.

Liputan media yang baik dapat membantu memperkuat kebanggaan masyarakat terhadap budaya lokal. Selain itu, penyiaran yang tepat dapat menarik minat wisatawan untuk datang dan mengenal Kalbar lebih dekat.

Dengan demikian, festival budaya bukan hanya perayaan tahunan, tetapi juga bagian dari pembangunan sosial dan ekonomi daerah.

Harapan KPID Kalbar bagi Lembaga Penyiaran

Melalui sosialisasi ini, KPID Kalbar berharap lembaga penyiaran dapat menghasilkan liputan yang berkualitas dan berimbang.

Ada beberapa poin penting yang diharapkan, antara lain:

  • Menampilkan Cap Go Meh sebagai warisan budaya dan pariwisata
  • Memberikan konteks edukatif pada atraksi tradisional
  • Menghindari penyajian yang bersifat sensasional
  • Mematuhi standar siaran sesuai P3SPS
  • Mengangkat pesan kearifan lokal sebagai suguhan utama

Dengan langkah ini, festival dapat dipromosikan secara positif tanpa mengurangi nilai budayanya.

Kesimpulan

KPID Kalbar menggelar sosialisasi peliputan Festival Budaya Cap Go Meh untuk memastikan lembaga penyiaran menyajikan konten yang sesuai standar dan menjunjung kearifan lokal.

Festival Cap Go Meh telah menjadi ikon pariwisata unggulan Kalimantan Barat dengan daya tarik nasional hingga internasional. Karena itu, peran media sangat penting dalam membentuk pemahaman publik.

Dengan peliputan yang selaras dengan pedoman P3SPS, festival budaya ini diharapkan dapat terus menjadi kebanggaan Kalbar sekaligus memperkuat identitas keberagaman Indonesia.

Cek Juga Artikel Dari Platform indosiar.site

You may also like...