Kisah Slamet, Muslim Penjaga Kelenteng Timbul di Laut Kalbar

kalbarnews.web.id Di tengah laut lepas Desa Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, berdiri sebuah bangunan yang terlihat tidak biasa. Sebuah kelenteng berdiri sendirian, seolah mengapung di atas air. Kelenteng ini dikenal dengan nama Xiao Yi Shen Tang atau Xuan Wu Zhen Tan.

Keunikan tempat ibadah ini bukan hanya karena lokasinya yang berada jauh dari daratan. Kelenteng tersebut juga menyimpan kisah yang menyentuh tentang toleransi, ketekunan, dan pengabdian seorang penjaga yang telah puluhan tahun merawatnya.

Bangunan yang sering disebut Kelenteng Timbul ini menjadi salah satu ikon spiritual dan wisata yang menarik perhatian banyak orang. Tidak sedikit wisatawan datang hanya untuk melihat langsung kelenteng yang berdiri di tengah laut, jauh dari hiruk-pikuk kota.


Hanya Bisa Dijangkau dengan Perahu

Lokasi kelenteng ini sekitar lima kilometer dari daratan. Tidak ada jalan menuju tempat tersebut. Satu-satunya cara untuk sampai ke sana adalah menggunakan perahu klotok atau kapal wisata.

Perjalanan menuju kelenteng memberikan pengalaman tersendiri. Laut terbentang luas, angin pantai berhembus kencang, dan di kejauhan tampak bangunan kelenteng berdiri sendiri di atas air.

Bagi sebagian orang, kelenteng ini terasa seperti tempat yang terpisah dari dunia ramai. Suasananya tenang, hening, dan penuh nuansa spiritual.

Karena posisinya yang berada di tengah laut, kelenteng ini menjadi simbol keteguhan, seakan tetap berdiri meski dikelilingi ombak dan perubahan alam.


Slamet, Muslim Penjaga Kelenteng Timbul

Di balik keunikan kelenteng ini, ada sosok yang membuat kisahnya semakin istimewa. Kelenteng tersebut dijaga oleh seorang pria muslim bernama Slamet.

Slamet kini berusia sekitar 74 tahun. Ia bukan penganut agama Konghucu atau Buddha seperti kebanyakan pengunjung kelenteng. Namun, justru ia menjadi penjaga setia yang merawat tempat ibadah itu hampir selama 30 tahun.

Setiap hari, Slamet datang ke kelenteng menggunakan perahu kecil. Ia berangkat dari rumahnya yang berada di kawasan pabrik dekat tepi pantai. Perjalanan itu sudah menjadi rutinitas panjang dalam hidupnya.

Apa yang dilakukan Slamet bukan hanya pekerjaan biasa. Ini adalah bentuk pengabdian yang lahir dari rasa tanggung jawab dan ketulusan.


Rutinitas Harian di Tengah Laut

Menjaga kelenteng di tengah laut tentu bukan hal mudah. Slamet harus menghadapi cuaca yang tidak selalu bersahabat. Kadang ombak tinggi, kadang angin kencang, dan terkadang hujan turun tiba-tiba.

Namun, Slamet tetap menjalani tugasnya dengan konsisten. Ia memastikan kelenteng tetap bersih, terawat, dan siap menerima kedatangan umat maupun wisatawan.

Di tempat yang jauh dari daratan, banyak hal harus dilakukan sendiri. Slamet menjadi orang yang menjaga keberlangsungan kelenteng, mulai dari merapikan area sekitar hingga memastikan keamanan bangunan.

Rutinitas sederhana itu menjadi bagian dari hidupnya selama puluhan tahun.


Simbol Toleransi yang Hidup dalam Kehidupan Sehari-hari

Kisah Slamet menjadi cerminan nyata tentang toleransi di Indonesia. Di tengah perbedaan agama dan budaya, Slamet menunjukkan bahwa menjaga tempat ibadah orang lain adalah bentuk kemanusiaan yang luhur.

Ia tidak melihat kelenteng hanya sebagai bangunan agama tertentu. Bagi Slamet, kelenteng adalah bagian dari lingkungan dan warisan yang harus dijaga.

Hubungan antarumat di sekitar Desa Kakap pun dikenal cukup harmonis. Kehadiran Slamet sebagai penjaga kelenteng menjadi bukti bahwa toleransi tidak selalu harus dalam bentuk besar. Kadang, toleransi hadir lewat tindakan kecil yang dilakukan setiap hari.


Kelenteng Timbul Jadi Daya Tarik Wisata dan Spiritual

Kelenteng di tengah laut ini bukan hanya tempat ibadah. Ia juga menjadi destinasi wisata unik di Kalimantan Barat. Banyak orang datang untuk berdoa, mencari ketenangan, atau sekadar menikmati pemandangan laut yang luas.

Keberadaan kelenteng ini juga memperlihatkan kekayaan budaya Kalbar yang beragam. Ada unsur tradisi Tionghoa, spiritualitas, serta kehidupan masyarakat pesisir yang berpadu dalam satu tempat.

Wisatawan yang datang sering terkesan bukan hanya karena bangunannya, tetapi juga karena cerita Slamet yang menjaganya dengan penuh dedikasi.


Pengabdian yang Menginspirasi Banyak Orang

Selama hampir tiga dekade, Slamet telah menjadi bagian tak terpisahkan dari Kelenteng Timbul. Ia menjaga tempat itu bukan karena sorotan, tetapi karena tanggung jawab yang ia pegang teguh.

Di usia senja, ia masih rutin datang, menunjukkan bahwa pengabdian tidak mengenal batas usia. Kisah Slamet mengajarkan bahwa ketulusan bisa melampaui perbedaan agama, budaya, bahkan jarak.

Kelenteng yang berdiri di tengah laut itu bukan hanya simbol spiritual, tetapi juga simbol persaudaraan dan toleransi yang nyata.


Penutup: Kelenteng dan Kisah Slamet Jadi Warisan Berharga

Kelenteng Xiao Yi Shen Tang di tengah laut Desa Kakap adalah salah satu tempat paling unik di Kalimantan Barat. Namun yang membuatnya lebih istimewa adalah sosok Slamet, seorang muslim yang setia menjaganya hampir 30 tahun.

Di tengah laut yang sunyi, kisah Slamet menjadi pengingat bahwa harmoni antarumat beragama bisa tumbuh dari tindakan sederhana dan konsisten.

Kelenteng Timbul bukan hanya bangunan di atas air, tetapi juga cerita tentang ketekunan, toleransi, dan Indonesia yang penuh keberagaman.

Cek Juga Artikel Dari Platform sultaniyya.org

You may also like...