Air Laut Naik hingga 1,7 Meter, BMKG: Banjir Rob di Ketapang Segera Surut
kalbarnews.web.id Ketinggian air laut di pesisir Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, kembali mencapai level tertinggi dalam beberapa hari terakhir. Fenomena banjir rob yang melanda pusat kota menyebabkan genangan di berbagai titik dan menghambat aktivitas warga.
Sejumlah ruas jalan utama seperti Jalan Arif Rahman Hakim di sekitar Jembatan Pawan I hingga Jalan Merdeka, tampak tergenang air laut pasang dengan ketinggian antara 30 hingga 70 sentimeter.
Tidak hanya di pusat kota, air juga meluber ke wilayah Jalan Ketapang–Siduk, terutama di kawasan Desa Laman Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara. Banyak kendaraan roda dua dan empat terpaksa memperlambat laju karena kondisi jalan yang licin dan tergenang.
Seorang pengendara bernama Rendi mengatakan, genangan air membuat banyak motor mogok di tengah jalan. “Kalau nekat lewat, airnya bisa sampai ke knalpot. Saya sendiri sempat berhenti dulu karena takut mesin rusak,” ujarnya.
Lalu Lintas Tersendat, Petugas Turun ke Lapangan
Untuk mengantisipasi kemacetan, BPBD Ketapang bekerja sama dengan Satuan Lalu Lintas Polres Ketapang dan Dinas Pemadam Kebakaran menurunkan tim ke sejumlah lokasi terdampak. Mereka membantu mengatur arus lalu lintas sekaligus memberi peringatan kepada pengendara agar tidak memaksa melintas di area genangan tinggi.
Petugas Damkar BPBD Ketapang, Karyadi, mengatakan bahwa banyak pengendara yang mengalami kesulitan. “Air di jalan lumayan tinggi. Banyak motor yang mogok karena memaksa lewat. Kami bantu dorong dan arahkan agar tidak macet total,” ungkapnya.
Selain mengatur lalu lintas, tim BPBD juga menyiagakan perahu karet dan pompa portabel untuk antisipasi jika volume air meningkat. Hingga kini, belum ada laporan rumah warga yang terendam parah, meski beberapa kawasan pesisir mengalami kenaikan muka air di halaman rumah.
Kenaikan Air Laut Capai 1,7 Meter
Menurut data BMKG Ketapang, ketinggian pasang air laut tertinggi mencapai 1,7 meter pada siang hari, tepat di antara pukul 12.00 hingga 13.00 WIB.
Kondisi ini disebut sebagai fenomena pasang maksimum, yaitu situasi ketika gaya gravitasi bulan dan matahari bekerja secara bersamaan menarik air laut ke permukaan bumi.
Prakirawan BMKG Ketapang, Ashifa Putri, menjelaskan bahwa fenomena ini sudah berlangsung selama empat hari terakhir dan menjadi penyebab utama genangan di wilayah pesisir Ketapang.
“Berdasarkan pemantauan kami, pasang air laut maksimum terjadi dalam beberapa hari terakhir. Besok masih berpotensi terjadi banjir rob di sejumlah wilayah pesisir,” ujarnya.
Ashifa menambahkan bahwa mulai dua hari ke depan, ketinggian air laut diperkirakan menurun secara bertahap. “Kemungkinan lusa pasang sudah mulai surut, sehingga potensi banjir rob juga menurun,” katanya.
Penyebab Banjir Rob di Musim Peralihan
BMKG menyebut fenomena ini merupakan efek kombinasi antara fase bulan purnama dan gelombang tinggi di perairan selatan Kalimantan Barat. Saat fase bulan purnama, gaya gravitasi bulan meningkat sehingga menyebabkan air laut naik lebih tinggi dari biasanya.
Kondisi tersebut diperparah oleh angin barat yang membawa gelombang dari Samudra Hindia menuju perairan Kalimantan bagian barat. Gelombang ini mendorong air laut ke arah daratan dan memicu genangan di kawasan pesisir rendah.
Selain itu, struktur geografis Ketapang yang berada di muara Sungai Pawan membuat tekanan air laut mudah naik ke daratan ketika debit sungai juga tinggi.
“Air sungai dan air laut bertemu di muara, menyebabkan air sulit surut cepat,” jelas Ashifa.
Aktivitas Warga Mulai Terganggu
Akibat genangan air, aktivitas masyarakat di sekitar kawasan Lapangan Pawan I dan Jalan Merdeka menjadi terbatas. Sejumlah toko terpaksa menutup sementara karena air masuk hingga ke teras bangunan.
“Biasanya ramai pembeli, tapi sejak banjir rob, pengunjung berkurang. Kami hanya buka setengah hari,” ujar Yani, pemilik warung makan di tepi jalan utama Ketapang.
Selain itu, kendaraan umum seperti angkot dan ojek daring juga harus memutar arah untuk menghindari area yang terendam. Pengiriman barang ke beberapa kecamatan pesisir pun ikut tertunda.
Pihak pemerintah daerah mengimbau agar masyarakat tetap waspada dan tidak menaruh kendaraan di dekat pesisir selama periode pasang tinggi berlangsung.
Langkah Antisipasi Pemerintah dan BMKG
Untuk mengurangi dampak banjir rob, Pemerintah Kabupaten Ketapang bersama BMKG terus melakukan pemantauan pasang surut air laut secara real-time. Hasil pengamatan dikirimkan ke perangkat desa dan kelompok nelayan agar mereka bisa menyesuaikan aktivitas melaut.
BMKG juga memberikan peringatan dini kepada warga pesisir agar menjauh dari pantai saat puncak pasang berlangsung.
“Kami sudah sampaikan ke nelayan agar tidak memaksakan melaut pada siang hari ketika ketinggian air laut sedang maksimum,” ujar Ashifa.
Pemerintah daerah berencana mempercepat pembangunan tanggul pesisir di beberapa titik yang rawan genangan, terutama di kawasan Sungai Pawan dan Desa Kalinilam.
Masyarakat Diminta Waspada dan Bijak
Meski banjir rob diprediksi segera surut, warga tetap diimbau menjaga kewaspadaan. Peningkatan permukaan air laut masih mungkin terjadi bila kondisi cuaca ekstrem berlanjut.
BMKG menegaskan bahwa fenomena rob bukan sekadar banjir biasa, melainkan sinyal perubahan dinamika laut yang perlu diwaspadai secara berkala.
“Kami berharap masyarakat memahami siklus pasang surut ini, bukan hanya saat banjir terjadi. Edukasi ini penting agar kesiapsiagaan bisa meningkat,” tutup Ashifa.
Kesimpulan: Ketapang Waspada, Alam Kembali diatur Waktunya
Kenaikan air laut di Ketapang menunjukkan bahwa wilayah pesisir tetap menjadi daerah rawan bencana hidrometeorologi.
Meskipun pasang maksimum akan segera surut, peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa adaptasi terhadap perubahan iklim harus dilakukan sejak dini.
Melalui kerja sama antara BMKG, BPBD, dan masyarakat, penanganan banjir rob bisa lebih cepat dan efektif.
Kota Ketapang, yang empat hari terakhir terendam genangan air laut, kini mulai bersiap menyambut surutnya pasang — sebuah siklus alami yang terus menguji ketahanan masyarakat pesisir Kalimantan Barat.

Cek Juga Artikel Dari Platform otomotifmotorindo.org
