Ketua IPARI Kalbar Raih Doktor Multikultural

kalbarnews.web.id Komitmen terhadap penguatan toleransi dan keberagaman kembali mendapat sorotan melalui capaian akademik H. Kartono. Ketua Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Kalimantan Barat itu resmi meraih gelar doktor setelah mempertahankan disertasinya dalam sidang terbuka di Universitas Islam Malang, Jawa Timur.

Gelar doktor yang diraih bukan sekadar pencapaian personal, tetapi juga simbol penguatan peran pendidikan Islam dalam merawat toleransi di wilayah yang memiliki sejarah sosial kompleks. Kalimantan Barat dikenal sebagai daerah dengan latar keberagaman etnis dan agama yang tinggi, serta pernah mengalami dinamika konflik sosial di masa lalu.

Disertasi tentang Kepemimpinan Kiai

Dalam disertasinya yang berjudul “Kepemimpinan Kiai dalam Menguatkan Sikap Toleran”, Kartono meneliti dua lembaga pendidikan Islam di Kalimantan Barat, yakni Pondok Pesantren Darul Ulum dan Pondok Pesantren Ulil Albab.

Penelitian ini menggunakan pendekatan multi-situs untuk melihat bagaimana kepemimpinan kiai mampu membangun budaya toleransi di lingkungan pesantren. Menariknya, dua pesantren yang diteliti memiliki karakter berbeda. Darul Ulum dikenal sebagai pesantren bercorak salaf yang mempertahankan tradisi klasik, sementara Ulil Albab mengusung pendekatan pendidikan modern.

Perbedaan model ini justru memperkaya hasil penelitian. Kartono menemukan bahwa nilai toleransi dapat tumbuh dalam berbagai pendekatan kepemimpinan, selama ditopang oleh keteladanan, dialog, dan komitmen terhadap nilai kebangsaan.

Pesantren sebagai Agen Rekonsiliasi

Dalam konteks pasca-konflik, pesantren memiliki posisi strategis sebagai agen rekonsiliasi sosial. Kartono menekankan bahwa kiai tidak hanya berperan sebagai pemimpin spiritual, tetapi juga sebagai mediator sosial yang mampu meredam potensi gesekan di masyarakat.

Pesantren, menurutnya, bukan hanya pusat pendidikan agama, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan wawasan kebangsaan. Melalui kurikulum, kegiatan sosial, serta interaksi lintas latar belakang, santri dibiasakan hidup berdampingan dalam keberagaman.

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pendekatan kepemimpinan berbasis keteladanan memiliki dampak kuat terhadap pembentukan sikap toleran. Ketika kiai menunjukkan sikap inklusif, menghargai perbedaan, dan membuka ruang dialog, nilai tersebut cenderung mengakar di kalangan santri.

Konteks Kalimantan Barat

Kalimantan Barat merupakan provinsi dengan komposisi etnis dan agama yang beragam. Keberagaman ini menjadi kekayaan sekaligus tantangan. Pengalaman konflik sosial di masa lalu menjadi latar penting dalam memahami urgensi pendidikan multikultural.

Sebagai Ketua IPARI Kalbar, Kartono selama ini aktif dalam pembinaan penyuluh agama untuk memperkuat moderasi beragama. Disertasinya menjadi refleksi akademik atas praktik yang telah ia jalankan di lapangan.

Ia menilai bahwa pendekatan dialogis dan kolaboratif perlu terus diperkuat. Penyuluh agama, pesantren, dan lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam menjaga harmoni sosial.

Pendidikan Multikultural sebagai Fondasi

Konsep pendidikan Islam multikultural yang diangkat dalam penelitian ini menegaskan bahwa ajaran agama dapat berjalan selaras dengan nilai kebangsaan. Prinsip menghargai perbedaan, keadilan sosial, dan persaudaraan menjadi fondasi utama.

Kartono menekankan bahwa toleransi bukan sekadar slogan, melainkan sikap yang dibentuk melalui proses panjang. Kurikulum yang inklusif, diskusi lintas perspektif, dan keterlibatan dalam kegiatan sosial menjadi bagian penting dari pembelajaran tersebut.

Di tengah arus globalisasi dan informasi yang cepat, pendidikan multikultural dinilai semakin relevan. Tantangan radikalisme dan polarisasi sosial menuntut pendekatan yang lebih adaptif dan berbasis dialog.

Dampak Akademik dan Sosial

Keberhasilan meraih gelar doktor ini diharapkan memberi kontribusi tidak hanya di ranah akademik, tetapi juga praktik kebijakan. Hasil penelitian Kartono dapat menjadi rujukan dalam merancang program penguatan toleransi berbasis pesantren.

Selain itu, capaian ini menunjukkan bahwa akademisi dan praktisi dapat berjalan beriringan. Pengalaman lapangan yang dipadukan dengan kajian ilmiah menghasilkan rekomendasi yang lebih aplikatif.

Bagi IPARI Kalimantan Barat, keberhasilan ini menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kapasitas penyuluh agama dalam menghadapi tantangan sosial. Pendidikan, dakwah, dan dialog antarumat beragama perlu diperkuat secara berkelanjutan.

Komitmen Berkelanjutan

Kartono berharap risetnya dapat mendorong lahirnya lebih banyak studi tentang pendidikan multikultural di Indonesia. Ia meyakini bahwa pesantren memiliki potensi besar sebagai pusat pembelajaran toleransi yang kontekstual dan membumi.

Gelar doktor yang diraihnya menjadi simbol bahwa isu keberagaman dan toleransi harus terus diperjuangkan melalui pendekatan ilmiah dan praktik nyata. Di tengah dinamika sosial yang terus berubah, kepemimpinan berbasis nilai inklusif menjadi kunci menjaga persatuan.

Dengan sinergi antara pendidikan, penyuluhan agama, dan kebijakan publik, harapan akan terciptanya masyarakat yang harmonis dan saling menghargai bukanlah sesuatu yang mustahil.

Cek Juga Artikel Dari Platform dapurkuliner.com

You may also like...