Polda Kalbar Perketat Patroli Siber Jelang Imlek dan Ramadan

kalbarnews.web.id Menjelang perayaan Tahun Baru Imlek dan datangnya bulan suci Ramadan, Kepolisian Daerah Kalimantan Barat mengambil langkah strategis dengan memperketat patroli di ruang digital. Upaya ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap meningkatnya aktivitas online yang berpotensi memicu gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.

Dalam era digital seperti sekarang, media sosial menjadi ruang terbuka yang sangat cepat menyebarkan informasi. Sayangnya, ruang ini juga sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menyebarkan konten provokatif, hoaks, hingga ujaran kebencian. Karena itu, patroli siber dianggap penting untuk menjaga suasana tetap kondusif, terutama menjelang momen-momen besar yang sensitif secara sosial dan budaya.


Satgas Siber Operasi Liong Kapuas Jadi Garda Depan Pengawasan

Polda Kalimantan Barat menjalankan pengawasan digital ini melalui Satuan Tugas Siber dalam Operasi Liong Kapuas 2026. Satgas ini menjadi garda terdepan dalam memantau aktivitas masyarakat di dunia maya, khususnya di platform media sosial yang sering menjadi tempat penyebaran isu-isu sensitif.

Kasatgas Siber, Edi Tuliskanto, menegaskan bahwa fokus utama patroli adalah menyisir akun-akun yang menyebarkan konten negatif. Konten tersebut meliputi ujaran kebencian, provokasi, serta isu yang mengandung unsur SARA yang dapat memicu perpecahan di tengah masyarakat.

Langkah ini bukan semata bentuk pengawasan, tetapi juga pencegahan agar ruang digital tidak menjadi alat untuk merusak persatuan.


Konten Provokatif dan Isu SARA Jadi Fokus Utama

Polda Kalbar menilai bahwa menjelang perayaan Imlek dan Ramadan, tensi sosial biasanya meningkat karena banyaknya aktivitas masyarakat dan interaksi lintas kelompok. Dalam kondisi seperti ini, penyebaran informasi yang salah atau provokatif dapat dengan mudah memicu kesalahpahaman.

Konten yang mengandung unsur SARA, ujaran kebencian, atau ajakan permusuhan sering kali muncul dalam bentuk narasi yang dibungkus seolah-olah sebagai kritik atau opini. Padahal, dampaknya bisa sangat serius karena dapat memecah belah masyarakat yang selama ini hidup rukun.

Karena itu, patroli siber dilakukan secara intensif untuk memastikan ruang digital tetap sehat dan tidak menjadi sarana konflik.


Menjaga Kondusivitas Wilayah Lewat Dunia Maya

Keamanan wilayah saat ini tidak hanya ditentukan oleh patroli fisik di lapangan, tetapi juga oleh pengawasan di ruang digital. Dunia maya telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat, sehingga potensi gangguan keamanan pun bisa bermula dari sana.

Polda Kalbar memahami bahwa konflik sosial sering kali diawali dari percakapan atau unggahan di media sosial yang kemudian berkembang menjadi polemik besar. Dengan patroli siber, aparat dapat mendeteksi lebih dini potensi gangguan dan mengambil langkah pencegahan sebelum situasi membesar.

Langkah ini menjadi bagian dari strategi menjaga stabilitas wilayah, khususnya saat masyarakat bersiap menyambut perayaan keagamaan dan budaya.


Edukasi Masyarakat untuk Bijak Bermedia Sosial

Selain melakukan penindakan terhadap akun penyebar kebencian, patroli siber juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menggunakan media sosial secara bijak. Polda Kalbar mengingatkan bahwa setiap orang memiliki tanggung jawab dalam menjaga ruang digital tetap aman.

Masyarakat diimbau untuk tidak mudah membagikan informasi yang belum jelas kebenarannya. Hoaks yang tersebar luas sering kali menjadi pemicu utama keresahan sosial.

Bijak bermedia sosial berarti memeriksa sumber informasi, tidak terpancing emosi, serta menghindari komentar atau unggahan yang dapat menyinggung kelompok tertentu.


Peran Patroli Siber dalam Mencegah Hoaks dan Polarisasi

Hoaks dan provokasi digital dapat menciptakan polarisasi di tengah masyarakat. Ketika orang mulai terpecah karena informasi palsu, persatuan menjadi rentan. Inilah mengapa patroli siber menjadi salah satu langkah penting dalam menjaga harmoni sosial.

Operasi seperti Liong Kapuas menunjukkan bahwa kepolisian tidak hanya fokus pada keamanan fisik, tetapi juga pada keamanan informasi. Dunia digital harus dijaga agar tidak menjadi ruang bebas bagi penyebaran kebencian.

Dengan pengawasan yang ketat, diharapkan masyarakat bisa merayakan Imlek dan menjalankan Ramadan dengan aman, damai, dan penuh toleransi.


Kesimpulan: Ruang Digital Harus Dijaga Bersama

Polda Kalimantan Barat memperketat patroli siber menjelang Imlek dan Ramadan sebagai langkah preventif untuk mencegah penyebaran konten provokatif, ujaran kebencian, serta isu SARA.

Upaya ini menjadi bagian penting dalam menjaga kondusivitas wilayah dan memperkuat persatuan masyarakat. Di tengah derasnya arus informasi digital, keamanan bukan hanya tugas aparat, tetapi juga tanggung jawab bersama.

Dengan kerja sama antara kepolisian dan masyarakat, ruang digital dapat menjadi tempat yang lebih sehat, damai, dan mendukung kerukunan sosial.

Cek Juga Artikel Dari Platform footballinfo.org

You may also like...