Sultan Hamid II – Otak Brilian di Balik Lambang Garuda Pancasila
Sultan Hamid II – Otak Brilian di Balik Garuda Pancasila
Untuk melihat peran Sultan Hamid II dalam perkembangan Pontianak, simak juga artikel pilar [Sejarah dan Budaya Kalimantan Barat].
Lihat juga kisah [Sultan Syarif Abdurrahman] sang pendiri Pontianak dan peran [Kesultanan Pontianak] yang menjadi pusat budaya.
Kalau kamu pikir Garuda Pancasila tercipta begitu saja, kamu harus kenalan sama Sultan Hamid II pendiri desain lambang negara ini dan sosok yang bener-bener unik dalam sejarah Indonesia.
Awal Kisah Seorang Sultan Milenial Zaman Dulu
Sultan Hamid II lahir dengan nama Syarif Abdul Hamid Alkadrie pada 12 Juli 1913 di Pontianak. Ia menjadi Sultan Pontianak ke-7 sejak 1945 dan juga menjabat sebagai Presiden Negara Bagian Kalimantan Barat hingga 1950.
Pendidikan militer di Belanda, status kolonel KNIL, serta latar internasional membuat Sultan Hamid II berhati global. Ketika Indonesia merdeka, dirinya menduduki peran strategis dalam formasi negara federal, namun yang paling dikenang adalah kiprahnya merancang Garuda Pancasila lambang negara yang sekarang kita kenal.
Dari Sketsa Sultan ke Lambang Nasional
Januari 1950, Sultan Hamid II menjadi koordinator Panitia Lencana Negara, dengan Ki Hajar Dewantara dan Muhammad Yamin sebagai anggota. Dia dan tim menyusun desain Garuda Pancasila. Sultan mengirim desain ambing burung garuda memegang perisai Pancasila, lalu menyempurnakan pita dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”.
Pada 11 Februari 1950, Garuda Pancasila resmi diadopsi sebagai lambang negara. Presiden Soekarno kemudian juga mengajukan sentuhan visual akhir: seperti penambahan jambul dan penyesuaian posisi cakar. Hasil akhirnya adalah tampilan Garuda yang modern sekaligus penuh filosofi bangsa.
Antara Jasa dan Kontroversi
Meski berjasa sebagai perancang lambang negara, nama Sultan Hamid II tidak lepas dari kontroversi. Ia dituding terlibat kudeta APRA, menimbulkan riak sejarah yang menodai reputasinya. Banyak yang kemudian lupa padahal desain lambang negara sekarang adalah buah karya Sultan.
Legacy yang Banyak Dilupakan
Meski namanya sempat tenggelam dalam kontroversi, peran Sultan Hamid II sebagai penanggung jawab desain lambang nasional tak bisa digugurkan. Sosoknya tetap penting dalam pembentukan identitas visual Republik Indonesia. Banyak peneliti menyatakan bahwa karya ini punya status sebagai cagar budaya nasional.
Mengapa Ini Relevan Buat Generasi Milenial?
Gaya hidup kece generasi sekarang bener-bener butuh figur seperti Sultan Hamid II yang berpikir progresif di masa penuh tantangan. Desain Garuda Pancasila adalah contoh nyata bahwa kreativitas dan kecintaan pada tanah air bisa diwujudkan lewat karya visual yang legendaris.
Bayangkan, karya desain yang kamu lihat setiap hari ada pada kop surat, sekolah, hingga logo pemerintahan itu lah hasil rancangan seorang Sultan Asia! Merasa keren? Wajar, karena tahu kalau lambang negara dibuat oleh sosok berdarah bangsawan Pontianak.
Penutup Kekinian
Sultan Hamid II adalah pengingat bahwa sejarah Indonesia penuh cerita menarik yang tak bisa dipandang sebelah mata. Ia penghubung antara sepak terjang militer, kesultanan tradisional, dan desain nasional modern. Garuda Pancasila adalah warisannya layak dicintai dan jadi kebanggaan generasi sekarang.
Cek juga artikel terbaru dari beritajalan.web.id

