Pahlawan Pontianak: Dari Sultan Pendiri hingga Pejuang Melawan Penjajah
Perjuangan para pahlawan Pontianak dapat dilihat lebih luas dalam artikel pilar [Sejarah dan Budaya Kalimantan Barat].
Simak juga kisah heroik [dr. Raden Rubini] serta perlawanan rakyat yang diabadikan dalam [Tugu Bambu Runcing].
Kota di garis khatulistiwa, menyimpan kisah heroik yang sering terlupakan. Di balik jalan utama dan tugu kota, bersemayam nama-nama besar yang telah membentuk pijakan sejarah kita hari ini. Yuk, kita rayakan dan kenang pahlawan Pontianak yang menginspirasi generasi muda!
1. Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie – Pendiri Kota Pontianak
Pada tahun 1771, Syarif Abdurrahman Alkadrie menemukan titik pertemuan Sungai Kapuas dan Sungai Landak setelah menyingkirkan gangguan kuntilanak, lalu mendirikan sebuah kesultanan—Pontianak yang kita kenal sekarang. Ia resmi dinobatkan sebagai Sultan pertama pada 31 Agustus 1778. Dalam sanubari kota ini, ia adalah fondasi bagi identitas Pontianak yang kita cintai sekarang.
2. Sultan Hamid II – Otak di Balik Logo Garuda Pancasila
Generasi berikutnya menghadirkan Sultan Hamid II—Sultan Pontianak ke-7, yang juga merupakan perancang Lambang Negara Indonesia, Garuda Pancasila. Sosoknya adalah simbol kompromi dan perjuangan identitas bangsa. Meskipun kontroversi politik sempat mengusik kiprahnya, desainnya tetap menjadi warisan simbolis yang membanggakan seluruh rakyat Indonesia.
3. Dokter dr. Raden Rubini & Pejuang Raden Abdul Kadir – Suara Nyata Melawan Penjajahan
Pontianak dan Kalbar juga dikenal sebagai tanah kelahiran dua Pahlawan Nasional: Raden Abdul Kadir Raden Temenggung Setia Pahlawan, yang berjuang melawan Belanda hingga akhir hayatnya, dan dr. Raden Rubini, dokter sekaligus pejuang yang tewas dalam pembantaian Mandor tahun 1944 bersama istrinya Amalia. Kisah mereka adalah cermin keteguhan hati saat bangsa diuji.
4. Perintis Kemerdekaan dari Kalimantan Barat
Selain pahlawan nasional, Kalbar melahirkan 11 tokoh perintis kemerdekaan yang bahkan dikirim ke Boven Digul sebagai tahanan politik. Tokoh-tokoh seperti Gusti Sulung Lelanang, Ahmad Sood, hingga Bardan Nadi menorehkan sejarah panjang perlawanan terhadap penjajah. Nama mereka diabadikan dalam monumen dan mosaik sejarah kota Pontianak.
5. Warisan dalam Ruang Kota: Tugu “Digulists” dan Nama Jalan
Pontianak menelurkan simbol tak kasat mata—Monumen Sebelas Digulis, sebagai penghormatan kepada tokoh-tokoh perintis. Tugu ini bukan sekadar monumen, tapi juga ruang refleksi tentang arti perjuangan dan kebebasan. Di jalan-jalan utama, nama-nama pahlawan terlihat bukan untuk pamer, melainkan untuk membangkitkan rasa hormat dan rasa syukur generasi sekarang.
Cek juga artikel terbaru dari hotviralnews.web.id

