Sejarah Kesultanan di Pontianak: Dari Sungai Kapuas ke Pusat Peradaban Kalimantan Barat
Pontianak, Kota di Bawah Naungan Kesultanan
Artikel pilar [Sejarah dan Budaya Kalimantan Barat] mengulas peran penting kesultanan ini.
Pelajari pula kisah [Sultan Syarif Abdurrahman] sebagai pendiri dan [Sultan Hamid II] sebagai pembaru.
Jangan lewatkan kaitannya dengan peran [Sungai Kapuas] sebagai jalur perdagangan utama.
Pontianak dikenal sebagai Kota Khatulistiwa dengan sejarah panjang yang menarik. Di balik gemerlapnya kota modern ini, tersimpan kisah Kesultanan Pontianak yang menjadi pusat budaya, politik, dan perdagangan di Kalimantan Barat.
Kisah ini dimulai lebih dari dua abad lalu, ketika Syarif Abdurrahman Alkadrie menemukan titik strategis di muara Sungai Kapuas dan Sungai Landak. Lokasi ini kelak menjadi pusat lahirnya peradaban baru yang membawa pengaruh besar bagi masyarakat Kalimantan.
Awal Berdirinya Kesultanan
Pada tahun 1771, Syarif Abdurrahman bersama rombongan membangun pemukiman di kawasan tersebut. Cerita rakyat menyebutkan bahwa wilayah itu awalnya dihuni makhluk halus bernama “kuntilanak”. Untuk mengusir gangguan, dilakukan upacara adat sebelum membangun pemukiman.
Kesultanan Pontianak resmi berdiri pada 23 Oktober 1778, dengan Syarif Abdurrahman diangkat sebagai Sultan pertama. Peristiwa ini menjadi tonggak sejarah lahirnya Pontianak, yang kemudian berkembang pesat sebagai pusat perdagangan di pesisir barat Kalimantan.
Pusat Perdagangan dan Dakwah
Letak geografis Pontianak yang strategis di tepi sungai menjadikannya jalur perdagangan penting. Kapal-kapal dari berbagai daerah, termasuk Jawa, Sumatera, hingga Tiongkok, singgah di pelabuhan Pontianak.
Selain pusat perdagangan, kesultanan ini juga menjadi pusat penyebaran Islam di Kalimantan Barat. Syarif Abdurrahman dan keturunannya aktif berdakwah, mendirikan masjid, dan memperkuat nilai-nilai keislaman di masyarakat. Salah satu warisan yang masih berdiri megah hingga kini adalah Masjid Jami’ Sultan Syarif Abdurrahman, simbol kejayaan dan keberagaman budaya Pontianak.
Kesultanan di Masa Kolonial
Memasuki abad ke-19, Kesultanan Pontianak mulai menghadapi tantangan besar dengan hadirnya kolonial Belanda. Perjanjian-perjanjian yang dibuat kala itu membatasi kekuasaan politik kesultanan, meski secara budaya dan sosial, pengaruhnya tetap terasa.
Pada masa ini, Pontianak berkembang sebagai pusat administrasi sekaligus budaya. Istana Kadriyah dibangun dengan arsitektur khas perpaduan Melayu, Arab, dan Eropa, yang kini menjadi ikon wisata sejarah di Pontianak.
Warisan yang Masih Terjaga
Meski kekuasaan politik Kesultanan Pontianak berakhir seiring perubahan zaman, warisan sejarahnya masih terjaga hingga kini. Istana Kadriyah masih berdiri di Kampung Dalam Bugis, menjadi saksi bisu kejayaan masa lampau.
Tradisi budaya seperti upacara adat, kesenian Melayu, hingga dakwah Islam masih mewarnai kehidupan masyarakat Pontianak. Bahkan, nama-nama Sultan terdahulu kini diabadikan sebagai nama jalan utama di kota ini, seperti Jalan Sultan Syarif Abdurrahman dan Jalan Sultan Hamid II.
Pontianak di Mata Generasi Muda
Bagi generasi muda, sejarah Kesultanan Pontianak bukan sekadar cerita lama. Warisan budaya ini menjadi identitas yang harus dijaga dan dikembangkan. Banyak komunitas lokal yang kini mengemas edukasi sejarah dalam bentuk tur heritage, konten digital, hingga pameran budaya yang menarik minat wisatawan.
Kesimpulan
Sejarah Kesultanan Pontianak adalah cermin perjalanan panjang kota ini, dari pemukiman kecil di tepi Sungai Kapuas hingga menjadi kota besar yang maju dan modern. Perpaduan antara warisan budaya, perdagangan, dan dakwah Islam menjadikan Pontianak unik dan berkarakter.
Menelusuri sejarah kesultanan ini bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga menginspirasi generasi masa kini untuk menjaga dan melestarikan budaya yang menjadi kebanggaan masyarakat Kalimantan Barat.
Artikel ini di kutip dari pontianaknews.web.id

